Posts Tagged With: Park yoochun

Because of You [Part 3]

Because of You [Part 3]

cast :

Xiah Junsu

Shina widanti (fiction girl)

Max Changmin

yuuri (pinjem namanya ya yuur ^__^)

DBSK

other cast.

“Junsu-a, jadi tadi kau yang menabrak Shina?” tanya Junho pada saudara kembarnya ini.

Junsu hanya mengangguk dan masih bertampang kesal.

“Junsu-a, kenapa kau bisa dikejar-kejar fans begitu?” tanya Nyonya Kim dengan lembut.

“itu… aku ingin berjalan-jalan setelah lama tidak kembali ke korea. aku tidak tau kalau ada fans yang mengikutiku hingga akhirnya dia mengajak teman-temannya meminta foto dan tanda tanganku.” Kata Junsu panjang lebar.

“Oppa, kenapa kau juga mengajak Shina ikut berlari?” tanya yuuri yang ikut dalam pembicaraan.

“fansku pasti melihatku berbicara dengannya. Kalau dia tidak ikut lari, bisa-bisa dia dikeroyok habis-habisan sama mereka. Bukannya berterima kasih!” kata Junsu dengan tampang sebal ke arah Shina.

Shina dari tadi hanya memandangnya dengan tajam. Ia merasa sangat kesal pada Junsu.

“Dan benarkah kau tidak tau TVXQ??? Masa Omma tidak pernah cerita padamu?” selidik junsu.

“Yaa!! Mana tau aku kalau DBSK punya nama lain. Memang semua orang harus kenal padamu?!” balas Shina setengah berteriak.

“Yaa!! kenapa kau berteriak padaku?!” kata Junsu dengan kesal sambil menaikkan suaranya.

Semua yang ada di ruangan itu menyadari adanya tanda-tanda peperangan antara Shina dan Junsu. Mereka berusaha mencairkan suasana.

“Shina-a, kau pasti lelah. Kau sudah makan?” tanya Nyonya Kim dengan halus.

“sudah ajumma. Aku mau ke atas dulu. Permisi…” kata Shina sambil berdiri dan membungkukkan badannya. Ia lalu beranjak ke kamarnya dengan tampang kesal.

“ya!! Kau ini tidak sopan sekali!” kata Junsu ketika melihat Shina pergi begitu saja.

“Junsu-a! kau ini… kalau bukan karenamu, dia tidak mungkin sekesal itu.” Kata Junho yang balik memarahi junsu.

“Hyung, kenapa kau malah menyalahkanku? Aku sudah berbaik hati padanya… huuhhh..” kata Junsu yang bertambah kesal. Kenapa semua orang menyalahkannya? Junsu tidak habis pikir, kenapa dunia bisa sesempit ini dan saking sempitnya, gadis aneh itu ternyata tinggal di rumah orang tuanya.

“Oppa! Kau tau tidak, Kau sudah membuatnya kehilangan gelangnya! Kau yang harusnya minta maaf!” kata yuuri memarahi Oppa-nya ini.

“Mwo? Gelangnya hilang? Memangnya salahku?” tanya Junsu lagi.

“gelangnya hilang sewaktu kau menabraknya!” kata yuuri.

“aku bisa ganti! Kenapa dia tidak minta ganti rugi aja?” kata Junsu enteng.

“Yaa!!! Oppa, kau tidak tau benda itu begitu penting baginya! Sama pentingnya dengan liontinmu itu!” kata yuuri yang mulai kesal dengan tingkah Junsu.

Junsu terdiam. Tiba-tiba ia merasa telah bertingkah keterlaluan.

“Junsu-a, sudahlah tidak usah dipikirkan. Sebaiknya kau istirahat dulu. Pasti kau capek sekali kan? Sudah makan malam?” kata Omma-nya dengan lembut.

“sudah Omma. Tadi aku makan dengan Changmin. Aku ke kamar dulu… permisi.” Kata Junsu yang mendadak merasa lemas. Semua orang yang ada di ruang keluarga hanya melihatnya dengan heran. Tadi Junsu begitu kesal, sekarang ia tiba-tiba diam seperti ini.

****

Shina merebahkan diri di tempat tidurnya yang empuk. Perasaannya masih kacau. Ia sedih karena kehilangan gelangnya dan juga kesal karena orang yang membuat harinya hancur ternyata adalah Kim Junsu.

kenapa dunia bisa sempit begini? Kenapa harus bertemu dengan orang menyebalkan itu? Dari jutaan laki-laki di dunia ini, kenapa musti dia??? Menyebalkan sekali!!!” kata Shina gusar. Ia lalu menyalakan ipodnya dan memasang headset-nya di telinganya. Ia berusaha untuk melupakan hari menyebalkan ini dan mendengarkan lagu favoritnya.

****

Junsu terdiam di kamarnya sambil merebahkan diri di tempat tidur. Perasaannya tak kalah kacau dengan yang dialami Shina. Ia merasa sangat bodoh dan keterlaluan pada gadis itu.

Yaa!!! Oppa, kau tidak tau benda itu begitu penting baginya! Sama pentingnya dengan liontinmu itu!

Junsu teringat dengan kata-kata yuuri barusan.

“Minha-a, apa aku begitu keterlaluan?” kata Junsu sambil menggenggam liontin yang selalu ia pakai kemanapun ia pergi.

Junsu terus memandangi langit-langit kamarnya hingga akhirnya ia tertidur karena kelelahan.

****

Shina bangun dengan malas. Ia ingin tidur lagi, namun jam bekernya sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Ia lalu bangun dan merapikan dirinya. Perasaan sudah mulai baikan. Ia tidak sekesal kemarin. namun tetap saja, kenyataan bahwa Junsu juga tinggal satu atap dengannya membuat Shina kembali dongkol.

argh!!! Kenapa harus dia?!” katanya gusar.

****

Shina turun ke lantai bawah. Dilihatnya Junsu sedang duduk santai di ruang keluarga. Dengan cuek shina berjalan melewatinya menuju dapur. Shina ingin mencari Nyonya Kim, namun ia tidak di ada di dapur. Dengan kecewa, ia melangkahkan kakinya kembali ke ruang keluarga.

“kau mencari omma?” tanya Junsu saat Shina memasuki ruang keluarga.

“ne…” jawabnya singkat.

“Omma sedang pergi keluar sama Appa.” Balas Junsu.

“hmm… Junho oppa mana? Masih tidur?” tanya Shina lagi.

“hyung sedang keluar.” Jawab Junsu singkat.

“hmm… yasudah” kata Shina dan ia pun langsung beranjak menuju kamarnya lagi.

“kau sudah makan? Omma sudah membuatkanmu sarapan. Sebaiknya kau makan dulu.” Kata Junsu ketika melihat Shina akan kembali lagi ke kamarnya.

Shina menghentikan langkahnya. “ne…” katanya singkat dan kembali berjalan menuju dapur.

“emm, Shina-a…” kata Junsu dengan sedikit ragu.

Shina menoleh ke arahnya, menunggu apa yang akan Junsu katakan.

“Mianhae…” kata Junsu sambil menatap lantai rumah.

“untuk apa?” balas Shina yang kini menatap lurus ke arah Junsu.

“Mianhae, aku telah membuatmu kehilangan gelangmu. Mianhae, karena aku membuatmu kesal kemarin.” Kata junsu dengan menyesal.

Shina menghela napasnya. Ia ingin marah, namun sudah tak ada gunanya lagi. lagipula Junsu sudah meminta maaf padanya, Shina merasa kurang enak jika harus marah terus padanya.

“gwenchana… tidak usah dipikirkan.” Kata Shina sambil tersenyum.

“tapi aku sudah menghilangkan gelangmu. Aku akan berusaha mencarinya.”

“tidak usah… lagipula, sejak dulu aku ingin membuangnya. Cuma tidak pernah rela. Sekarang dia uda hilang, jadi aku tidak perlu lagi memikirkannya.” Kata Shina lagi. ya, ia ingin membuangnya. Shina berusaha membuangnya, namun hatinya masih tidak rela. Karena ia sudah berjanji untuk menjaganya, membuat shina tidak bisa membuangnya.

“membuangnya? Waeyo?” tanya junsu heran.

“anni… lupakan saja.”

“baiklah, terserah kau saja kalau tidak mau cerita. Emm shina-a..” kata junsu lagi.

“ne?”

“bisakah kita menjadi teman. Maksudku, kita tinggal di tempat yang sama. Rasanya aneh jika seperti ini.” Kata junsu dengan ragu.

“aku juga berpikir seperti itu. Rasanya canggung jika seperti ini.” Kata Shina mengiyakan perkataan Junsu.

“Bagus… kau bisa memanggilku oppa seperti kau memanggil Junho hyung. Semoga kita bisa menjadi teman.” Kata Junsu sambil tersenyum lega.

“ye, oppa. Kau sudah makan?”

“sudah. Hanya kau yang belum.”

“hmm… baiklah, aku sarapan dulu ya…” kata Shina sambil beranjak meninggalkan Junsu.

“Shina-a…” panggil Junsu lagi.

“ne?”

“kau ini tidak bisa bangun pagi ya? Masa anak gadis bangunnya siang begini?” tanya Junsu dengan asal. Shina membelalakkan matanya.

“ya!!” kata Shina. Baru saja tadi baikan, sekarang Junsu mulai membuatnya kesal lagi.

“Cuma becanda… peace!” kata Junsu sambil nyengir dan membentuk huruf V dengan tangannya.

“Ya!! Kau ini!” kata Shina kesal.

“hahahaha…. lihat wajahmu! Lucu sekali… hahahahaha” Junsu tertawa sambil menunjuk wajah Shina yang sedang kesal. Kontan saja wajah Shina langsung memerah seperti tomat dan Junsu kembali tertawa saat melihatnya.

“aissshhh!!” kata Shina yang langsung beranjak ke dapur tanpa mempedulikan Junsu yang masih tertawa.

lucu juga tawanya.” Batin Shina sambil tersenyum.

****

Shina telah selesai sarapan. Ia merasa bosan tinggal dikamarnya dan beranjak ke ruang keluarga. Disana ia melihat Junsu sedang menonton TV sambil tertawa. Dengan canggung, ia melangkahkan kakinya mendekati junsu.

Junsu melihat kehadiran Shina langsung berhenti tertawa.

“ehheem… boleh ikutan nonton?” kata Shina sedikit ragu.

“tentu saja.” Balas Junsu sambil tersenyum ramah. Shina lalu duduk di sebelah Junsu dengan sedikit canggung.

“lagi nonton apa? Seru sekali.” katanya membuka percakapan.

“ahh… ini Explore Human Body. Lucu sekali… kamu pernah nonton?” tanya balik Junsu.

Shina menggeleng. “aku jarang nonton TV selama di korea. lebih sering jalan-jalan.”

“ahh… acara ini bagus lho! Buat menghilangkan stress…”

“benarkah?”

“hmm… liat saja…” kata Junsu yang kemudian kembali dalam acara menonton TV-nya. Shina juga ikut memperhatikan adegan kocak yang ada di TV. Shina ikut tertawa bersama junsu walaupun ia tidak mengenali artis-artis yang sedang ia tonton. Yang pasti, acara itu membuatnya tertawa.

“kau tau siapa mereka?” tanya junsu tiba-tiba.

“anni… siapa mereka?”

“mereka itu Super Junior. Junior kami di SM. Enternatainment. Nah, yang kocak itu, namanya hyukjae atau lebih dikenal dengan eunhyuk. Dia sahabatku sejak di sekolah dasar.” Kata junsu setengah menjelaskan.

“ahh… mereka lucu sekali. Super Junior itu juga boyband ya?”

“ne… mereka juga boyband seperti kami dan jumlah anggota mereka 13 orang.”

“hah? Benarkah? Banyak sekali.” kata Shina heran. Seumur hidupnya, ia tidak pernah melihat sebuah boyband beranggotakan 13 orang.

“benar. Walau banyak begitu, mereka punya talenta masing-masing dan itulah yang membuat mereka unik. Sahabatku itu, eunhyuk, dia rapper dan lead dancer-nya.”

“ahh… ne. Pasti dia keren sekali.”

“aku juga bisa dance seperti dia! Dulu aku sering latihan bersamanya.” Kata junsu. Ia tidak ingin Shina menganggap Eunhyuk lebih keren darinya.

“arasseo…” kata Shina lagi.

“lalu yang itu siapa?” tanya shina sambil menunjuk seorang namja yang rambut depannya di cat pirang dan tampangnya sangat manis.

“itu donghae. Dia juga salah satu lead dancer, rapper, dan juga vokalis.” Jawab Junsu.

“ahh… sepertinya dia keren!” kata Shina tiba-tiba.

“ne?” tanya Junsu tidak percaya.

“sepertinya aku akan jadi fans-nya. Hehehehe” kata Shina sambil nyengir.

“ahh… arasseo. dia memang tampan.” Kata Junsu sedikit kecewa. “eh Shina-a….. “

“ne?”

“benarkah kau tidak pernah dengar tentang boyband korea? maksudku, kau tidak tau tentang kami?”

“ahhh itu.. mian Oppa, dulu aku tidak mengerti bahasa korea. makanya aku kurang tertarik dengan lagu-lagunya. Tapi aku sering nonton drama korea.”

“benarkah? Apa?” tanya Junsu sedikit bersemangat.

“aku pernah nonton Endless Love, Stairway to heaven, dan… emmm apa lagi ya judulnya.” Kata Shina sambil mengingat-ngingat drama korea yang pernah di tontonnya.

“ahhhh, arasseo. kamu tidak pernah dengar lagu korea, tapi sering nonton dramanya? Yahh, setidaknya kamu taulah tentang korea.” kata Junsu sambil tersenyum manis. Shina membalas senyum junsu.

“lalu, kau suka lagu apa? Yang sering kau dengar.” tanya junsu lagi.

“aku suka lagu…” Shina belum selesai berbicara ketika handphone-nya berbunyi.

So get back, back, back to where we lasted.

Just like I imagine.

I could never feel this way.

So get back, back, back to the disaster.

My heart’s beating faster.

Holding on to feel the same”

Shina dengan cepat meronggoh saku celananya. “siapa ya? Nomer indonesia.” katanya dalam hati. Shina lalu menjawab telepon itu.

halo… selamat pagi.” kata Shina sopan. Junsu hanya memperhatikan Shina yang sedang berbicara dalam bahasa yang tidak dimengertinya.

Shina tiba-tiba terdiam. Ia dengan cepat memutus sambungan telepon dengan orang itu.

“waeyo? Kenapa kau kaget? Ada masalah?” tanya Junsu khawatir.

“anni… hanya orang salah sambung.” Kata Shina singkat dan sedikit gugup.

Junsu memandang gadis yang duduk di sampingnya dengan heran. Tawa gadis itu kini tiba-tiba menghilang begitu saja. Junsu merasakan ekspresi sedih dan terluka terpancar dari wajah Shina.

“benarkah?” tanya junsu lagi.

“hmm… eh oppa, aku ke atas dulu ya…” kata Shina sambil tersenyum dan kemudian bangkit dari tempatnya duduk.

Junsu hanya memandang Shina yang berlalu begitu saja.

“Oppa..” kata Shina tiba-tiba sesaat setelah ia beranjak dari tempatnya duduk.

“ne?” kata Junsu sedikit kaget.

“seperti itu…”

“ne? apanya?” tanya junsu tidak mengerti.

“seperti itu, jenis lagu yang sering aku dengar. Seperti ringtone handphone-ku.” Kata Shina yang kembali tersenyum pada Junsu dan kemudian beranjak ke kamarnya.

Junsu masih diam mematung berusaha mencerna kata-kata Shina. Sesaat kemudian, Ia tersenyum. “seperti itu ya? Tidak buruk.”

Junsu kembali melanjutkan acara nonton TV-nya. Walau matanya tertuju pada TV di depannya, namun pikirannya melayang kemana-mana.

“dia… seperti orang yang aku kenal…” kata Junsu sambil tetap memandang TV.

“tapi siapa?” tanya Junsu pada dirinya sendiri.

Continue ^^

Categories: fanfic | Tags: , , , , , , , , | 8 Comments

Because of You [Part 2]

Because of You [part 2]

cast :

Xiah Junsu

Shina widanti (fiction girl)

Max Changmin

yuuri (pinjem namanya ya yuur ^__^)

DBSK

other cast.
dasar orang aneh! Kenapa aku harus kenal padanya? Memang dia siapa sih?” gerutu Shina saat ia sedang berjalan pulang ke rumah keluarga Kim.

kalau dia artis, emangnya kenapa? Memang satu korea harus kenal dia?” tambah Shina dengan sangat amat kesal. Namja aneh yang mengaku-ngaku artis terkenal korea itu telah menghancurkan mood-nya untuk jalan-jalan. Shina tidak habis pikir, mengapa namja itu harus menariknya dalam masalahnya dan mengajaknya lari maraton.

kalo takut dikejar-kejar fansnya, ngapain dia ga sembunyi di rumahnya? Ga usa sok pake jalan-jalan! Ngerepotin orang aja! Emang TVXQ itu terkenal amat di korea? belagu amat tu orang!” Shina masih terus menggerutu hingga tanpa disadarinya, ia sudah tiba di depan kediaman keluarga Kim.

Shina menghembuskan napas untuk meredakan kekesalannya dan kemudian masuk ke ke dalam. “Aku pulang.”

“Shina-a, kau kemana saja? OMO, kenapa pakaianmu bisa kotor begini?” tanya Nyonya Kim ketika Shina memasuki ruangan tamu.

“ceritanya panjang ajumma. Tadi aku ditabrak orang aneh dan dia malah membuatku lari maraton. Benar-benar hari yang menyebalkan!” kata Shina dengan kesal.

“sudah-sudah. Kamu mandi dulu sana dan jangan lupa ganti pakaianmu ini. Nanti anak ajumma yang satunya akan pulang. wahhhh, ajumma sangat rindu padanya.” Kata Nyonya Kim dengan mata berbinar-binar saat membicarakan anak lelakinya yang notabene adalan seorang artis.

“ne ajumma. Aku ke atas dulu ya…” kata Shina seraya pamit dengan ajumma dan langsung menuju kamarnya.

“ne…” balas Nyonya Kim yang masih senyum-senyum sendiri membayangkan anaknya akan pulang setelah kurang lebih 6 bulan berada di Jepang.

****

fiuhhh… segarnya! Setidaknya, aku ga perlu ketemu orang aneh itu lagi! seoul kan kota yang padat, jadi kemungkinan aku ketemu dengan orang aneh itu sekitar 0.001%!” kata Shina sambil berlogika ria saat dirinya telah selesai mandi. Shina lalu berdiri di depan cermin yang ada di kamarnya. Ia menyisir rambutnya yang panjang, kemudian merapikan dandanannya.

gelangku!” kata Shina tiba-tiba ketika disadarinya gelang yang selalu ia pakai kini tidak ada lagi di pergelangan tangannya. Ia langsung panik dan berusaha mencarinya di sekeliling kamarnya, berharap agar gelangnya ketemu.

dimana??? Dimana dia???” kata Shina sambil mengobrak-abrik kamarnya.

Shina lalu beranjak ke luar kamarnya setelah cukup lama mencarinya di kamarnya. Ia kemudian melangkah ke kamar mandi. “mungkin jatuh di kamar mandi” katanya.

Shina sibuk mencari gelangnya di kamar mandi ketika seseorang menegurnya.

“Shina-a, apa yang kau lakukan?” tanya seorang namja yang tidak lain adalah Junho.

“ah… Oppa… aku kira siapa.” Katanya sambil menoleh dan kemudian kembali  melakukan pencarian terhadap gelangnya.

“kau sedang apa Shina-a?” tanya Junho lagi.

“emm… gelangku hilang Oppa! Kau lihat tidak?” kata Shina dengan penuh harap jika Junho ternyata menemukannya.

“gelang? Seperti apa? Aku ga liat.”

Shina menghela napas. “ternyata tidak lihat ya? Gelang yang aku pakai setiap waktu. Yang berwarna biru safir.” Kata Shina berusaha menjelaskan ciri-ciri gelangnya.

“ahhh… yang itu… Aku tidak lihat Shina-a. mian. Emmm, mungkin aku bisa bantu mencarinya.” Kata Junho sambil tersenyum.

“komawo Oppa. Aku sudah cari di kamarku, hasilnya nihil. Dan di kamar mandi juga tidak ada.” Kata Shina sedih.

“sudah benar-benar dicari dengan teliti? Mungkin kau lupa menaruhnya.” Kata Junho lagi.

“anni… aku sudah mencarinya berkali-kali. Tidak mungkin aku menaruhnya sembarangan karena aku terus memakainya. Dan…” tiba-tiba Shina ingat sesuatu.

“dan apa?” tanya junho.

“sepertinya gelangku terjatuh waktu ditabrak orang aneh itu.” kata Shina sambil mengingat-ngingat kejadian saat dirinya tanpa sengaja bertabrakan dengan orang yang mengaku-ngaku artis.

“orang aneh?” tanya Junho dengan heran bercampur penasaran.

“ne… ceritanya panjang oppa! Aku akan cari dulu ya…” kata Shina yang langsung pergi meninggalkan Junho yang terheran-heran.

“ya!! Shina-a, diluar sedang hujan! Pakai pakaian hangatmu dulu dan juga bawa payung!” kata Junho berusaha mengingatkan Shina jika cuaca sedang tidak bersahabat.

“ne….” kata Shina yang kembali lagi ke kamarnya dan mengambil baju hangatnya.

“dasar anak-anak!” kata Junho sambil geleng-geleng kepala dan kembali berjalan ke ruang keluarga.

****

“Shina-a, kau mau kemana? Di luar sedang hujan.” Tanya Nyonya Kim ketika Shina hendak meninggalkan rumah.

“gelangku hilang ajumma. Sepertinya terjatuh saat bertabrakan dengan namja tadi… aku ingin mencarinya dulu.”

“gelang apa?” tanyanya lagi.

“gelang yang selalu aku pakai. Yang berwarna biru safir.” Kata Shina berusahan menjelaskan gelangnya.

“ahhh… yang itu. Aku bisa membelikan yang sama untukmu, Shina-a. Nanti kau bisa sakit kalau hujan-hujanan.” Hibur Nyonya Kim, berusaha menyuruh Shina untuk tetap tinggal di rumah selama hujan belum berhenti.

“andwe… gelang itu sangat berharga bagiku ajumma. Seribu gelang yang sama tidak akan bisa menggantikannya.” Kata Shina tidak sabar karena ingin cepat-cepat menemukan gelangnya.

“tapi…”

“ajumma, aku pergi dulu!” kata Shina yang langsung beranjak ke luar rumah.

“hati-hati Shina-a! jangan pergi sampai larut!” Tambah Nyonya Kim mengingatkan.

“ne…” kata Shina samar-samar.

****

Shina terus menelusuri jalan yang tadi ia lewati sambil terus memperhatikan sekitarnya.

Dimana dia?” kata Shina sambil terus mencari di tengah hujan yang tidak kunjung berhenti.

Udara yang begitu dingin tidak membuat Shina berhenti mencarinya. Ya, gelang itu sangat berarti baginya. Sepenggal masa lalu bahagia yang tersisa untuk Shina terkenang pada gelang itu, gelang yang sudah menemaninya ketika suka dan duka menghampiri hidup Shina.

****

aku ceroboh sekali! bagaimana ini?” kata Shina sambil berteduh di depan sebuah ruko yang sedang tutup. Ia sudah mencarinya kemana-mana namun hasilnya masih nihil.

Shina terus memandang lurus ke depan. Pikirannya melayang kemana-mana.

-Flashback-

untukku?” tanya Shina pada seorang laki-laki.

hmm… untukmu! Bagaimana, kau suka?

Shina menangguk dan menerima gelang berwarna biru safir yang sangat indah. “trims, Adit…” kata Shina sambil tersenyum ke arah laki-laki yang bernama Adit.

Jangan sampai hilang ya! Aku harus keliling satu kota sebelum menemukannya.” Kata Adit sambil tersenyum dan memakaikan gelang itu di pergelangan tangan Shina.

Indah sekali! aku akan menjaganya terus! Janji…

bagus! Walau apapun yang terjadi, ingatlah gelang itu adalah bukti kalau aku bener-bener sayang sama kamu.

hmmm… aku juga sayang ama kamu dit.” Kata Shina sambil menyenderkan kepalanya di pundak laki-laki yang begitu disayanginya ini. Shina berjanji akan terus menjaga pemberian Adit sampai kapanpun.

-End of flasback-

Tanpa Shina sadari, airmatanya mengalir begitu saja.

maaf dit! Aku ga bisa jaga gelangnya.” Kata Shina lirih dan menghapus airmata yang mengalir di wajahnya.

walau aku masih ga bisa maafin kamu, tapi aku sudah janji untuk menjaganya. Maaf dit.” Katanya lagi. Shina masih diam begitu lama di depan ruko itu walau kini hujannya telah berhenti.

So get back, back, back to where we lasted.

Just like I imagine.

I could never feel this way.

So get back, back, back to the disaster.

My heart’s beating faster.

Holding on to feel the same”

Shina mendengar lagu sugarcult – memory dari hp-nya. Shina dengan cepat meronggoh saku celananya.

“yoboseyo…”

“Shina-a, kau dimana?” kata seorang gadis dari seberang telepon.

“aku sedang berteduh yuuri-a. kenapa?” kata Shina berusaha untuk terdengar biasa.

“Kau habis menangis ya? Gelangnya tidak ketemu?” tanya yuuri yang terdengar khawatir.

“ne… tidak ketemu. Bagaimana ini?” kata Shina lirih.

“uljima, Shina-a. sebaiknya kau lekas pulang karena hari sudah mulai gelap.” Kata yuuri mengingatkan Shina bahwa hari sudah beranjak malam.

“ne… aku akan pulang sekarang. Kau di rumah ajumma ya?” tanya Shina.

“ne… aku sedang menunggu Junsu oppa. Hehehe… tadi ajumma bilang kalau kamu lagi nyari gelangmu yang hilang. Harusnya aku tidak meninggalkanmu sendirian tadi. Pasti kamu tidak akan ketemu orang itu.” Kata yuuri dengan nada menyesal.

“gwenchanayo yuuri-a. itu bukan salahmu. Orang aneh itu yang salah!” kata Shina yang kini kemarahannya mulai muncul lagi.

“arasseo… Shina-a, cepatlah pulang! Semua orang sedang khawatir menunggumu.”

“ne… aku pulang sekarang… bye..” kata Shina yang mulai berjalan pulang.

“bye…” kata yuuri singkat.

Shina mematikan sambungan telponnya dengan yuuri dan kini ia berjalan dengan lesu. Ia ingin mencari gelang itu lagi, namun hari sudah mulai gelap dan tentu saja akan sia-sia jika dicari sekarang.

sial sekali aku hari ini…” katanya lirih. Shina terus berjalan dengan lesu menuju kediaman keluarga Kim. Ia benar-benar kesal, sedih, dan kecewa. Kejadian ini kembali membuatnya teringat masa lalunya.

Shina, jangan dipikirkan! Bagus lagi kalo gelang itu sudah hilang, Kau jadi ga perlu terbenani olehnya!” hibur Shina pada dirinya sendiri.

Ia tetap berjalan dengan lesu, walaupun sudah berusaha menghibur diri sendiri.

****

Shina tiba di depan kediaman keluarga Kim. Dilihatnya sebuah mobil mewah terparkir di depan rumah itu.

Mobil siapa?” tanya Shina pada dirinya sendiri.

ahh… mungkin mobil anak ajumma yang artis itu. Hmmm, gimana ya orangnya? Mudah-mudahan sebaik Junho oppa.” kata Shina lagi. ia sudah tidak sabar bertemu dengan Kim Junsu yang selalu dibanggakan oleh ajumma dan juga Yuuri.

****

“aku pulang!” kata Shina ketika ia sudah memasuki rumah keluarga Kim.

“Shina-a, kau lama sekali. gelangnya tidak ketemu?” tanya Nyonya Kim yang sepertinya sudah menunggunya dari tadi.

Shina menggeleng lesu. Ia tidak kuat berkata-kata lagi karena ia yakin dirinya pasti akan menangis jika ditanya tentang gelangnya itu.

“Shina-a! kau baik-baik saja kan?” kata yuuri yang menghampirinya dan langsung memeluknya.

Shina hanya mengangguk.

“jangan sedih Shina-a! kau pasti akan menemukannya nanti.” Kata yuuri berusaha menghiburnya. Yuuri tahu seberapa berharganya gelang itu bagi Shina.

Shina hanya mengangguk tanpa berkata sedikitpun.

“Sudah-sudah. Jangan diam di depan pintu terus. Ayo masuk.” Nyonya Kim mengingatkan Shina dan yuuri bahwa mereka masih berdiri di depan pintu.

“ne..” kata Shina dan yuuri berbarengan.

“Ajumma, mobil siapa di depan itu?” tanya Shina tiba-tiba.

“ahh, itu mobil anak ajumma yang bernama Kim Junsu. Kau harus bertemu dengannya Shina-a!” kata Nyonya Kim yang kini terlihat bersemangat membicarakan anaknya itu.

“kau harus bertemu dengannya, Shina-a! kau pasti akan meyukainya. Oppa-ku gitu!” kata yuuri yang ikutan bersemangat seperti nyonya Kim.

Shina hanya tersenyum dan mengikuti mereka menuju ruang keluarga.

****

Shina sampai di ruang keluarga bersama ajumma dan yuuri.

“Nah, Shina-a. ini anak ajumma dan juga kembaran Junho. Kenalkan, ini Kim Junsu. Junsu-a, ini Shina. Dia akan tinggal disini beberapa tahun untuk kuliah. Dia ini anak teman Omma dari Indonesia.” Kata Nyonya Kim sambil memperkenalkan seorang namja pada Shina dengan panjang lebar.

Shina melihat wajah Kim Junsu yang selalu dibanggakan oleh Nyonya Kim. Wajah Shina menegang.

“KAU?!” kata Shina dan Junsu berbarengan.

Continue ^^

Categories: fanfic | Tags: , , , , , , , ,

Only One [part 1]

cast :

Sinta/you [fiction]

DBSK

other cast.

aku memandangi poster besar yang tertempel di kamarku. aku melihat kelima orang yang sedang berdiri dengan gagahnya sambil tersenyum kearahku. bukan. bukan ke arahku. mereka hanya tersenyum sesuai tuntutan fotografer. aku mendesah pelan. berapa lama aku harus seperti ini, memandangi foto-foto idolaku sambil berharap jika mereka mengetahui keberadaanku yang berada di belahan lain dunia ini.

Oppa! jangan memandangku seperti itu!!” Kataku sambil merebahkan diri di tempat tidurku yang empuk. wajah para personil DBSK memenuhi kepalaku. semua gossip tentang mereka memenuhi pikiranku. yang ada di benakku, bagaimana jika kelak mereka memiliki pendamping hidup? tentu aku senang. sebagai seorang cassiopeia, aku akan turut senang jika melihat idolaku bahagia. tapi apa sesederhana itu? mendengar gossip tentang Junsu oppa dan Taeyeon Onnie saja sudah membuatku sangat sakit. ya, junsu oppa adalah favoritku di TVXQ. setiap melihatnya menyanyi, aku akan tersenyum sendiri memperhatikan gerak-geriknya. bagiku dia spesial. tapi aku hanya seorang penggemar yang bahkan tidak terdeteksi keberadaannya. aku mencoba mengalihkan perhatianku dari kelima laki-laki yang sukses membuatku menjadi seorang fangirl.

aku membuka ponselku. tanpa sengaja aku membuka sebuah file dan dengan teliti mengamati foto-foto kelulusanku di SMA. aku terus memperhatikan foto-foto itu sambil sesekali tertawa kecil mengingat teman-temanku. lalu aku sampai pada sebuah foto. dadaku sesak melihat foto itu. fotoku bersama seorang laki-laki sambil tersenyum bersama ke arah kamera.

Andi…” kataku perlahan.  Andi adalah teman kelasku di SMA. ia adalah siswa yang sangat baik dan mempunyai selera humor yang bagus. dan yang terpeting, aku menyukainya. bukan pada pandangan pertama tapi setelah lama mengenalnya. aku menyukai pribadinya yang ceria dan polos. aku menyukai gaya bicaranya yang kadang terlihat malu-malu. aku suka caranya tersenyum yang selalu sukses membuatku hampir pingsan ketika melihatnya. aku mendesah pelan. aku sadar, ia bukan untukku dan tak akan pernah untukku. karena ia tidak pernah memandangku. gadis yang tidak populer dan tidak memiliki bakat khusus sepertiku. aku berbaring menatap langit-langit kamarku. sudah cukup semua ini. perasaan ini sudah menyiksaku. perasaan menyukai seseorang tanpa pernah tahu bagaimana perasaan mereka padaku. aku terus menggumamkan kata-kata tidak berguna hingga akhirnya aku tertidur.

__^^^__

Sinta, bangun! hari ini kita akan kedatangan tamu!” aku mendengar ibuku mengetuk-ngetuk pintu kamarku sambil berteriak. aku mengerang dan masih bermalas-malasan di tempat tidurku yang sangat empuk ini.

kenapa?” tanyaku sambil terus berbaring dengan malas.

Sinta!” aku mendengar suara ibuku mendekat. jika sudah begini, aku tidak bisa lagi bermalas-malasan.

Bangun! kita akan kedatangan tamu spesial hari ini! kau harus bersiap-siap dan berdandan rapi! arraseo??” kata ibu sambil menarikku bangun.

“arraseo?? tumben pake bahasa korea..” kataku sambil beranjak dengan malas dari tempat tidurku.

hari ini tamu kita datang dari korea. oh iya, kamu masih mengerti bahasa korea kan?? ibu sudah mengajarimu selama ini.” kata ibu sambil menatapku yang menguap karena masih ingin tidur. aku hanya mengangguk pelan. ya, ibuku selalu mengajariku berbicara bahasa korea. ibuku adalah seorang keturuan korea yang menikah dengan ayahku yang berkebangsaan indonesia. walau sekarang aku berstatus WNI, tapi ibuku selalu mengingatkanku untuk tidak melupakan kebudayaan ibuku di korea sana.

Baiklah… kau cepat mandi dan berdandan. lalu turun kebawah bersama kami menunggu kedatangan tamu kita itu! oke?” kata ibu lagi. aku hanya mengangguk pelan dan berjalan ke kamar mandi.

__^^^__

aku sudah selesai mandi dan berdandan sebisaku. aku masih malas turun ke ruang tamu dan memutuskan tetap tinggal di kamar sambil berkiriman pesan melalui ponselku.

Woiii, hari apa ni? pagi bener bangunnya neng?? mo kemana loe?” aku membaca pesan dari sahabatku Rina sambil tersenyum.

iyyoo, mo ada tamu dari korea! aku masi mau tidur! huaahheemm…” balasku singkat.

dari korea?? kiiiiyyyaa, klo ada yg cakep kenalin ya buuu! wkwkwkwk

hueekkzzz, ga bakal! enak aje loe! eh, main kesini donk! ajak yg laen juga! aq kangen ma kalian T.T” balasku. sudah beberapa minggu aku tidak bertemu dengan sahabat-sahabatku. aku sangat merindukan mereka.

siipp, rencananya mo ke humz-mu besok ama yg laen. eh kata erna, si andi mau ikut… bole ga?” Aku terdiam. andi ikut? yah, andi kini berpacaran dengan seorang sahabatku bernama erna. karena itulah aku tahu jika ia tidak akan pernah melihatku. ia hanya menganggapku sahabat dari pacarnya. aku ragu sejenak dan mulai menulis lagi.

besok??? ayookk sini!! 😀 emm, gmn yah? andi bole ikut asal bawa makanan! wakakakakak” aku akhirnya memutuskan membiarkannya ikut. toh aku tidak akan bisa memberi alasan pada sahabat2ku jika aku melarangnya ikut. aku lebih tidak ingin persahabatanku hancur, melebihi perasaanku pada seorang lelaki.

bueehh, maruk loe! oke deh… deal?? besok aku ke humz-mu jam 10 pagi! kita maen game sepuasnya!!! hahahaaha, maen winning eleven lagi yook! spanyol pasti yg menang! brazil, keok! lol

oke.. siapa takut! KAKA yg terhebat! awas entar si pabrik gas!” balasku sambil tersenyum. ahh, pabrik gas itu adalah panggilanku untuk cesc Fabregas, idola rina sahabatku.

oke deh buuu! see ya tomorrow! fabregas! bukan pabrik gas! brapa kali harus aq bilang??? huuhhh!!! hooaahhheemm, aku mo lanjut tidur dulu yah… mo mimpiin fabregas sayang! 😛 bye…” aku tertawa kecil membacanya.

oke bye! mimpiin dah si korek api! 😛 besok akan kukalahkan dia! hohoho…” balasku dengan senyum kemenangan. jika aku merasa sedih, mengejek sahabatku inilah salah satu hobiku untuk melupakan sejenak semua masalahku. dan tentu saja, tidak ada seorangpun yang mengetahui perasaanku pada Andi karena aku menyimpannya dengan sangat rapat.

Sinta, tamunya uda datang!!! turun!” aku mendengar suara kakak laki-lakiku memanggilku dari ruang tamu.

Ia kak Arya!” aku berteriak sambil memastikan dandananku tidak rusak. setelah merasa siap, aku turun ke ruang tamu untuk menemui tamu ibuku dari korea itu.

__^^^__

aku turun menuju ruang tamu dan mendengar suara beberapa laki-laki yang aku yakin adalah tamu itu. aku melihat ayahku mengobrol dengan seseorang yang sosoknya masih tidak dapat aku lihat karena tertutup oleh tembok yang memisahkan ruang tamu dengan ruang keluarga. aku melangkahkan kakiku memasuki ruang tamu.

Sinta, cepat!” aku melihat ibuku memanggilku dan aku masuk ke ruang tamu.

Nah sinta, perkenalkan. ini tamu ibu dari korea.” kata ibuku dan aku memberi salam pada mereka.

“annyonghaseyo, Sinta imnida!” kataku dalam bahasa korea sambil membungkukkan badan memberi hormat. ketika aku melihat ke arah orang itu, aku tertegun tidak percaya.

“Sinta-a, kau kenapa?” tanya kak arya berbahasa korea sambil tersenyum jahil. ia tahu jika aku akan syok.

“anniyo. hanya saja… dongbangshinki?” tanyaku tidak percaya dan masih berdiri mematung. aku berusaha meyakinkan pengelihatanku bahwa yang dihadapanku ini adalah DBSK, boyband idolaku. oh tuhan, mimpi apa aku semalam??

“Annyong Sinta-a, sudah lama tidak bertemu. terakhir aku melihatmu masih sangat kecil dan belum bisa berjalan.” kata seorang dari mereka yang aku tahu adalah Shim Changmin. aku hanya terdiam mematung berusaha mencerna kata-katanya.

“Sinta-a, duduk dulu. nanti appa jelaskan.” kata ayahku sambil menarikku duduk di sebelahnya. aku hanya menurut dan masih tidak percaya jika DBSK kini ada di hadapanku dan Changmin oppa sudah mengenalku.

“begini, Changmin ini anak teman ommamu di korea. waktu kau masih bayi, kita sekeluarga berlibur ke korea dan bertemu dengan keluarganya.” kata ayahku setengah menjelaskan. aku hanya menatapnya dalam diam. masih tidak percaya.

“nah Sinta-a, perkenalkan ini teman-temanku di DBSK.” kata Changmin oppa sambil tersenyum. aku hanya mengangguk tanpa bisa berkata-kata. kak arya dari tadi hanya memandangku sambil tertawa kecil.

“Annyong Sinta-Shii. Kim jaejoong imnida!” aku melihat Jaejoong oppa memperkenalkan dirinya sambil tersenyum. oh tuhan, DBSK benar-benar disini!

“annyonghaseyo.” kataku sedikit kaku karena gugupnya. aku lalu memandang sebal ke arah kak arya yang tidak berhenti tertawa.

kak arya! tunggu balasan dariku!” kataku dengan bahasa indonesia sambil menatap tajam ke arahnya sedangkan kak arya masih tertawa.

“jung yunho imnida!” aku melihat yunho oppa memperkenalkan dirinya sambil tersenyum.

“annyonghaseyo.” kataku berusaha terdengar sebiasa mungkin.

“naneun Park Yoochun Imnida.” kata yoochun oppa sambil tersenyum.

“annyonghaseyo.” kataku balas tersenyum.

“annyonghaseyo. Kim Junsu imnida!” dan kali ini Junsu oppa memperkenalkan dirinya sambil tersenyum manis. ya tuhan, itu junsu oppa!

“a… annyonghaseyo.” kataku sedikit tergagap karena terkesima dengan senyumannya. sedangkan kak arya masih terkikik di balik bantal sofa yang sejak tadi di pegangnya.

kak arya!” kataku kesal.

“anniyo! panggil aku Oppa! kau harus terbiasa memanggilku Arya Oppa.” katanya memberi syarat. aku tertawa kecil membayangkan memanggilnya ‘Oppa’.

apa? arya oppa?? maksa banget deh! kak arya aja uda cukup!” kataku balik menertawakannya.

awas kau Sinta!” kata kak arya sambil cemberut.

“sudah-sudah. kalian masih saja bertengkar. nah, ajumma sudah menyiapkan makan siang. ayo kita makan dulu.” kata ibuku mengalihkan pembicaraan kami.

“ne. kamsahamnida ajumma!” aku mendengar DBSK oppa berbicara berbarengan.

__^^^__

Rin, tau ga siapa tamu ibuku?” tanyaku pada Rina saat kami sedang mengobrol di telepon. makan siang tadi benar2 tidak akan bisa aku lupakan. melihat kelima member DBSK makan di meja yang sama denganku sambil mengobrol denganku dan tidak jarang menanyakan jenis makanan yang mereka makan.

mana aku tau! siapa? cakep?” tanya rina.

mau tau aja! hahaha… ini lebih dari sekedar CAKEP! pokoknya kamu pasti bakal kaget deh rin!” kataku mantap. aku tahu jika besok Rina ke rumahku, dia pasti akan terbengong melihat Changmin oppa di depannya.

masa?? aduuhh, ga sabar nunggu besok!” katanya mulai semangat.

oke deh. aku tunggu besok! aku dipanggil ibuku. bye…” kataku saat mendengar suara ibuku memanggil.

oke! bye Sin!” kata Rina. aku langsung menutup telepon dan beranjak menemui ibuku.

__^^^__

mana kak arya?” tanyaku pada ibuku.

lagi main PS di atas sama DBSK. nah Sinta, bawa ini ke tempat mereka.” kata ibuku menyerahkan napan yang berisi minuman dingin dan kue buatan ibuku.

siip.” kataku sambil menerima napan yang penuh minuman, kemudian berjalan menuju tempat kak arya dan Oppa DBSK yang sedang bermain PS.

__^^^__

“Sinta-a, sini aku bantu!” Changmin oppa beranjak membantuku ketika melihatku datang dengan napan berisi minuman dan kue.

“kamsahamnida oppa.” kataku agak kikuk. masih terasa aneh berbicara dengan idolaku sedekat ini.

“Sinta-a, ambilkan punyaku!” perintah kak arya yang sedang asik berduel Winning Eleven dengan Junsu Oppa.

“ambil sendiri!” kataku sambil memeletkan lidah ke arahnya.

“pelit! masa kau tega dengan Oppamu?” keluh kak arya.

“tega apaan? nih! puas?” kataku sambil menyerahkan minuman dingin ke arahnya.

“nah, ini baru dongsaengku yang manis.” katanya sambil mem-pause permainan mereka dan mengacak rambutku. aku hanya memandangnya dengan sebal.

DBSK oppa hanya tertawa melihat tingkah kami yang terkesan kekanak-kanakan. aku memandang mereka dan menyadari bahwa salah seorang dari mereka tidak ikut tertawa bersama yang lain.

__TBC__

hahaha, kayalan tingkat tinggi yang sangat aneh!

Categories: fanfic | Tags: , , , , , , , | 1 Comment

Create a free website or blog at WordPress.com.