[FF] Can’t Deny This Feeling

hai hai hai, lama tak posting lagi 😀

Cast : Xiah Junsu, Kim Heechul
Genre : Romance

Enjoy ya…. maaf klo gaje banget…

“kau mencintainya kan???” kata itu keluar dari bibir seorang gadis sambil menatap namja yang kini sedang duduk di sofa apartemennya. Sudah berkali-kali namja itu curhat padanya.
namja itu mengangguk datar seakan tidak yakin dengan perasaannya sendiri. Gadis itu mengernyitkan alisnya. Ia tak mengerti mengapa sahabatnya bisa jadi begini. Selalu saja bersikap tidak peka terhadap kekasihnya.
“YA KIM JUNSU! Kenapa kau begini hah??” sudah hilang kesabaran gadis itu dengan sikap sahabatnya ini. Ia lelah menjadi penengah diantara Junsu dan kekasihnya itu. Ia lelah untuk selalu memeras otaknya mencari solusi yang tepat untuk mereka berdua. Namja yang diteriakinya hanya terdiam dan terlihat lelah dengan situasi yang kini dialaminya.

*****
Musim gugur telah tiba. Walau cuaca mulai mendingin, namun tetap saja musim gugur memberikan perasaan tersendiri bagi setiap orang. Seorang gadis sedang duduk di taman kampusnya. Di sekitarnya begitu ramai dengan orang-orang yang sedang asik bercanda dan mengobrol. Hanya dia yang terdiam sendirian memikirkan sesuatu yang selalu mengganjal di hatinya, tentang perasaannya.
“Minha-a!” gadis itu menoleh dan mendapati sahabatnya sedang duduk di sampingnya sambil tersenyum ke arahnya. Gadis yang dipanggil minha itu hanya tersenyum sekilas padanya dan kemudian memandangi langit yang entah mengapa terlihat mendung.
“YA! Apa langit lebih menarik daripada aku?” Minha menoleh dan mencibir pada sahabatnya itu. Yang dicibir hanya tersenyum mendapat perlakuan seperti itu. Sesungguhnya, Minha tak sanggup menatapnya. Karena hanya dengan menatap namja di sampingnya membuat hatinya tidak keruan.
“Junsu-a, bagaimana hubunganmu dengan taeyeon?” Tanya Minha. Namja yang dipanggil junsu itu tersenyum sejenak kemudian ikut memandangi langit seperti yang dilakukan oleh Minha. Tanpa perlu jawaban Junsu, Minha tahu bahwa kini hubungan mereka baik-baik saja. Ia hanya tersenyum menatap langit.
“kau tau, kadang aku merasa keputusanku salah.” Kata Junsu tiba-tiba membuat Minha menoleh padanya.
“maksudmu?” balas Minha tidak mengerti.
“entahlah, sepertinya hatiku sudah berkata lain.” Lanjut Junsu membuat Minha menatapnya tajam. Ia tidak mengerti apa yang sedang pikirkan oleh Junsu dengan berkata seperti itu. Ia yakin ini ada hubungannya dengan taeyeon.
“apa ini berhubungan dengan taeyeon?” Tanya Minha sambil terus menatap pada namja di sampingnya itu. Junsu tersenyum. Hanya itu, Minha sudah bisa mengetahui jawabannya. Kadang Ia tidak mengerti dengan sikap sahabatnya itu. Bagaimana mungkin ia bisa berkata begitu ketika semua usaha untuk mempertahankan hubungannya dengan taeyeon sudah membuahkan hasil. Bagaimana mungkin Junsu bisa mengatakan hal seperti itu di hadapannya yang juga sahabat taeyeon. Walau di satu bagian hatinya, ia ingin memiliki namja di sisinya ini. Namun di bagian lain hatinya, ia tidak bisa melakukannya. Ia tidak bisa jadi begitu egois dan hanya memikirkan perasaannya sedangkan orang di sekitarnya menjadi sedih.
“dengar…” kata Junsu sambil memutar tubuhnya memandang Minha yang juga sedang memandangnya. “aku sama sekali tidak tau kenapa ini bisa terjadi, hanya saja…” kata-katanya terputus ketika melihat tatapan Minha padanya. Ia menghela napas sejenak. Ia tahu bahwa sepertinya apa yang akan ia katakan tidak akan mendapat respon yang positif dari gadis ini.
“aku tau kau hanya bingung junsu-a. pikirkan lagi sebelum kau menyesal dan…” kata Minha sambil tersenyum menatap Junsu. “jangan sampai aku harus turun tangan lagi untuk mempersatukan kalian.” Tambahnya lagi. Walau hatinya sakit, tapi ia tidak bisa melihat hubungan kedua orang yang disayanginya ini merenggang. Ia tidak bisa melihat mereka bersedih. Karena itulah, Minha berusaha menepikan perasaannya sendiri dan membantu menjaga hubungan mereka. Walau ia tahu, dirinyalah yang akan menderita dengan ini.
Junsu hanya menatap gadis yang tengah tersenyum padanya itu. Ia merasa tidak berdaya. Ia tak tahu apa yang mesti dilakukannya saat ini. Ia tidak bisa membohongi perasaannya lagi. tapi ia tahu bahwa jika berkata jujur saat ini sama saja dengan kehilangan semuanya.
“arraseo.” Hanya kata itu yang keluar dari mulut Junsu. Untuk kesekian kalinya, ia tidak dapat membantah perkataan Minha.
*****
“Minha-a!” kata seorang lelaki tampan sambil menggoyang-goyangkan tangannya di hadapan gadis yang tengah melamun memikirkan sesuatu.
“ehh… heechul Oppa, kau bilang apa tadi?” balas Minha ketika ia sudah kembali ke alam sadarnya. Entah mengapa kini ia jadi sering melamun.
“kau mau pesan apa?” Tanya namja yang dipanggil Heechul itu sambil tersenyum lembut.
“eh mianhae, aku pesan cappuccino saja Oppa.” Balas Minha sedikit malu dengan tingkahnya yang tidak konsentrasi. padahal ia yang mengajak Heechul pergi duluan, tapi malah dia yang tidak mempedulikan namja itu.
“baiklah” kata heechul sambil menyerahkan pesanan mereka pada pelayan yang menunggu mereka.
“kenapa melamun Minha-a? ada yang mengganggu pikiranmu?” Tanya Heechul lembut sambil tersenyum manis. Minha hanya menggeleng. Ya, akhir-akhir ini ia sering melamun memikirkan Junsu dan Taeyeon. Kini mereka berdua sudah berbaikan. harusnya ia senang dengan itu, namun pada kenyataannya ia tidak bisa. perasaannya menangis. Betapapun ia berusaha menghapus perasaannya, namun ada satu hal yang tidak bisa ia ubah begitu saja. Bahwa ia mencintai Kim Junsu sahabatnya.
“anni Oppa. Hanya masalah kuliah.” Kilah minha sambil tersenyum meyakinkan. Heechul hanya tersenyum menanggapinya dan tidak bertanya lebih jauh tentang hal itu. Ia tidak ingin merusak acara mereka dengan membuat gadis itu tambah sedih.
“Onnie!” Minha yang sedang asik mengobrol bersama Heechul menoleh ke asal suara itu. Ia sedikit terkejut dengan kehadiran Taeyeon di café ini.
“taeyeon-a!” balas Minha. Ia menyadari taeyeon tidak datang sendiri, melainkan bersama Junsu. “junsu-a!” kata Minha sambil tersenyum pada mereka. Ia melihat taeyeon bergandengaan manja pada Junsu. Ada rasa sakit di hatinya, namun di satu sisi ia juga lega melihat dua orang yang penting baginya telah berbaikan. Ia rela harus menderita sendirian dengan perasaannya, asalkan bisa melihat orang yang dicintainya bahagia. Itu sudah cukup baginya.
“emm… taeyeon-a, Junsu-a, kenalkan ini Heechul Oppa. Oppa, kenalkan ini Taeyeon dan Junsu. Mereka sahabatku.” Kata Minha mengenalkan mereka.
“taeyeon Imnida.” Kata taeyeon sambil tersenyum ramah.
“annyeong Taeyeon-shii, Heechul imnida. Senior Minha di jurusan kesehatan.” Balas heechul sambil tersenyum pada Taeyeon.
“annyong Junsu-shii.” Kata heechul pada junsu sambil mengulurkan tangannya. Yang diajak bicara hanya diam mematung, tanpa ekspresi.
“oppa…” taeyeon menyenggol lengan junsu yang sedang terdiam.
“ehh… mianhae… annyong Heechul-shii. Junsu imnida.” Balas junsu sambil mengulurkan tangannya dan tidak lupa tersenyum pada namja itu.
“kalian juga mau makan? Bagaimana kalau kita makan bersama-sama?” kata heechul menawarkan.
“ahh… ide yang bagus. Iya kan Oppa?” balas taeyeon sambil meminta persetujuan Junsu. Yang ditanya hanya mengangguk sambil memaksakan seulas senyum.
*****
“all the things I still remember
Summer’s never look the same
Years go by and time just seems to fly
But the memories remained”
Minha terbangun mendengar handphonenya berbunyi. Dengan enggan ia menjawabnya. “yoboseyo??” katanya setengah mengantuk. Maklum saja, saat ini baru pukul 5 pagi. Minha baru tertidur 3 jam setelah semalaman sibuk mengerjakan tugas kuliahnya.
“ne… waeyo Taeyeon-a?” Tanya Minha setelah mengetahui siapa yang menelponnya. Minha menegakkan tubuhnya ketika mendengar Taeyeon menangis. Ia tahu sekarang apa masalahnya.
*****
TOK TOK TOK
Minha mengetuk pintu apartemen itu dengan tidak sabar. ia sudah tidak sabar mengeluarkan semua unek-uneknya.
TOK TOK TOK
Lagi. ia mengetuknya dengan lebih keras dari sebelumnya. “aisshhh, awas kau Kim Junsu!!!” runtuk Minha. Ya, pintu yang sedari tadi diketuknya dengan tidak sabaran adalah pintu apartemen Kim Junsu.
Setelah menunggu beberapa waktu, akhirnya pintu apartemen itu terbuka. Dilihatnya seorang namja dengan masih menggunakan pakaian tidurnya dan setengah mengantuk sedang berdiri di hadapannya.
“ada apa kau….” Belum ia menyelesaikan kalimatnya, Minha sudah menariknya masuk ke apartemen. Namja yang tak lain adalah Junsu hanya menuruti sahabatnya itu.
Minha berdiri di hadapan Junsu dengan tatapan yang tidak bersahabat seperti biasanya. Junsu tahu itu. Ia tahu jika ini akan terjadi. Minha pasti akan menanyakan perihal mengapa ia memutuskan hubungan dengan taeyeon.
“waeyo?” hanya kata itu yang keluar dari mulut Minha. Junsu menghela napas. Sudah saatnya ia mengakui semuanya. Sudah saatnya semua ini diluruskan.
“mengapa kau memutuskan taeyeon?” Tanya Minha lagi. Junsu masih terdiam sambil menatap Minha.
‘YA KIM JUNSU! Jawab aku, mengapa kau memutuskan Taeyeon?????” Tanya Minha tidak sabaran. Ia kesal. Sangat amat kesal karena Junsu sama sekali tidak menjawabnya.
“salahkah aku melakukannya?” junsu bertanya balik pada Minha. Hanya kata itu, membuat minha bertambah kesal berkali-kali lipat.
“pertanyaan apa itu? Tentu saja kau salah! Mengapa kau tega melakukan hal itu? Kau tau tidak, Taeyeon menangis terus sejak tadi! ia sangat mencintaimu!” balas Minha. Ia benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Junsu. Ia telah menepikan semua perasaannya pada namja di hadapannya ini. Ia telah meredam sakitnya sendiri dan membantu memperbaiki hubungan taeyeon dan Junsu. Namun kini, junsu seakan tidak lagi peduli dengan yang telah diperjuangkannya.
“mengapa hanya perasaan taeyeon yang kau pikirkan? tidakkah kau menanyakan perasaanku?” junsu terlihat menunduk. Sesungguhnya ia tidak sanggup menahan perasaannya lagi. ia harus berkata jujur.
“tentu saja aku tau kau mencintainya Junsu-a! aku selalu membantumu mempertahankan hubungan kalian.” Jawab Minha sedikit bingung dengan perubahan sikap sahabatnya itu. Ia merasa Junsu benar-benar tidak berdaya dengan semua yang terjadi.
“benarkah kau membantuku? Atau membantu taeyeon? Aku tidak pernah memintamu untuk membantuku mempertahankan hubungan kami. Kau selalu melakukannya karena kasihan pada taeyeon. Kau selalu melakukannya sendiri tanpa bertanya dulu bagaimana perasaanku yang sebenarnya.” Kata junsu dengan nada datar. Minha terdiam mendengar junsu berbicara. ‘benarkah itu yang kulakukan?’ batin Minha.
“aku pernah bilang padamu bahwa aku ingin mengakhirinya. Tapi kau selalu bersikeras bahwa aku harus tetap menjalaninya. Kau yang menyuruhku melakukannya. Kau tidak sadar?” tambah Junsu sambil menatap sendu pada Minha.
“Junsu-a, aku…” belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Junsu sudah memotong kata-katanya.
“aku tidak lagi mencintainya. Aku sudah mengatakannya pada taeyeon. Aku sudah berkata jujur padanya tentang perasaanku. Salahkah aku melakukannya? Aku hanya tidak ingin membuatnya bertambah menderita bersamaku yang tidak memiliki perasaan apapun padanya.”
Minha menghembuskan napasnya perlahan. “lalu mengapa kau tidak mengatakannya dari dulu?”
“kau tidak memberiku kesempatan melakukannya.” Balas Junsu. “kau selalu memberitahuku untuk menjalani hubungan itu. Kau yang…”
“lalu mengapa kau tidak membantahku?” Tanya minha langsung. Ia kesal ketika junsu membawa dirinya dalam masalah ini. Salahkah jika ia hanya berniat membantu? Mengapa Junsu tidak menolak saja? Tidakkah junsu tahu bagaimana perasaannya ketika membantu mereka?
“karena aku tidak sanggup membantahmu.” Kata junsu lirih. Minha tercekat mendengarnya. Ia tidak pernah menyangka Junsu akan mengatakan hal seperti itu. Ia tahu jika mereka telah bersahabat sangat lama, tapi ia tidak pernah tahu bahwa Junsu tidak bisa membantah perkataannya.
“waeyo? Aku tidak akan marah jika kau menolak saranku.”
“karena aku…” Junsu menghentikan ucapannya. Ia kembali menatap mata gadis di hadapannya. Seakan berusaha menjelaskan semuanya melalui matanya.
“karena apa?” Tanya minha tak mengerti dengan Junsu.
“karena aku… sejak lama…” kata Junsu sedikit ragu. “ karena aku… mencintaimu.” Kata Junsu membuat Minha terdiam. Ia tidak bisa mempercayai perkataan sahabatnya itu. Berbagai perasaan kini menggelayutinya. Antara terkejut, kecewa, bersalah, namun ada rasa senang disana.
“mwo?” hanya itu yang keluar dari bibir mungil Minha. Ia tidak yakin dengan apa yang junsu katakan.
“aku mencintaimu, Minha-a!” kini junsu terlihat tegas saat mengucapkannya. Ia tidak ingin Minha salah sangka lagi dengan perasaannya. Ia tahu resikonya, tapi kini ia sudah tidak peduli lagi. perasaannya sudah tak dapat ia bendung. Perasaannya terlalu kuat.
“Junsu-a…” minha kehilangan kata-katanya. Ia tidak tahu apa yang musti dikatakannya. “aku rasa kau hanya bingung. Kau… Kau sebaiknya memikirkannya dulu dengan baik. A… aku permisi dulu.” Kata Minha sambil beranjak pergi. Ia ingin segera pergi dari tempat ini. Ia tak sanggup bertatapan langsung dengan Junsu. Harusnya ia senang karena perasaannya terbalaskan, namun ia tidak bisa. ia tak bisa merasa bahagia namun di sisi lain taeyeon bersedih karena ini.
Belum sempat ia membuka pintu apartemen Junsu. Sebuah tangan yang terasa begitu hangat menahannya dan menariknya hingga ia berbalik menatap sosok itu. Ingin sekali ia menangis sekarang. Perasaan bersalah pada taeyeon dan perasaannya sendiri, kini membuatnya bingung.
“aku yakin dengan perasaanku. Bahkan 1000 tahun lagi, aku yakin dengan perasaan ini.” Kata Junsu mantap.
Minha merasakan airmatanya keluar tanpa sepengetahuannya. Perasaannya kacau. Ia tidak menyangka bahwa dirinyalah yang menyebabkan semua ini. Apa yang harus ia katakan pada taeyeon?
“uljima.” Kata Junsu sambil menghapus air mata gadis yang sangat dicintainya. “jebal uljima. Aku tak sanggup melihatmu menangis. Mianhae saranghamnida.” Kata-kata Junsu membuat Minha semakin merasa bersalah. Kini airmatanya sudah tak bisa ia bendung lagi. ia benar-benar bingung dan tak tahu harus bagaimana.
Hati junsu sangat sakit melihat gadis dihadapannya menangis. Ia tahu, ini kesalahannya. Tapi semuanya sudah terjadi dan ia tak bisa berbuat apa-apa lagi. dengan perlahan dipeluknya tubuh gadis itu. Ia benar-benar tak ingin kehilangan. Ia tak sanggup kehilangan gadis yang begitu dicintainya. Dieratkannya pelukan pada Minha yang masih menangis. “jeongmal Mianhae, Minha-a. semuanya kesalahanku.”
Minha merasa begitu nyaman berada dipelukan sahabatnya ini. Sudah lama ia tidak merasakannya. Sejak Junsu resmi berpacaran dengan taeyeon, ia tidak pernah lagi memeluk Junsu. Minha membalas pelukan Junsu. Ia begitu merindukan saat seperti ini.
Junsu melepaskan pelukannya dan memegang kedua pipi minha dengan kedua tangannya sambil tersenyum lembut. “saranghae Minha-a. aku tau ini bukan saat yang tepat, aku tau kau tidak siap mendengar semua ini. Tapi percayalah bahwa perasaanku nyata. Kau tau bagaimana kacaunya aku ketika melihatmu bersama pria lain? Aku hampir gila karena tidak bisa mengatakan perasaanku yang sebenarnya.”
Minha hanya memandang namja dihadapannya. Jika ia harus jujur, ia juga mencintai Junsu. Sangat mencintainya. Sejak dulu, sejak pertama mengenal junsu, ia sudah mencintai pria itu. Tapi bagaimana dengan taeyeon? Ia tidak bisa mengabaikan perasaan gadis itu. Ia akan merasa sangat jahat jika melakukannya.
“Junsu-a…” kata-kata Minha terputus ketika junsu membungkamnya dengan bibirnya. Dengan lembut Junsu mengecup bibir gadis itu. Minha hanya terdiam. Disatu sisi ia sangat menikmati kecupan lembut di bibirnya, namun disisi lain ia merasa begitu bersalah. Ia tak dapat memutuskan tindakan yang harus ia ambil.
*****
“onnie…” dengan cepat Minha mendorong tubuh Junsu menjauhinya. Kini ia kembali ke alam nyata. Minha membalikkan badannya. hatinya mencelos melihat seorang gadis yang sedang menatapnya sambil berusaha menahan airmatanya.
Junsu terdiam. Ia tidak tahu apa yang musti dikatakannya. Taeyeon disana, melihat hal yang baru dilakukannya. Ia yakin, Minha pasti akan menyalahkan diri sendiri lagi. junsu tahu Minha menemuinya agar dirinya kembali pada Taeyeon. Tapi apa yang baru dilakukan junsu? Ia membuat semuanya bertambah rumit.
“Taeyeon-a, dengar…” belum sempat Minha menyelesaikan kalimatnya, gadis itu sudah berlari pergi. Minha menyesali tindakannya yang tidak menolak saat junsu menciumnya. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Tanpa pikir panjang, Minha mengejar taeyeon yang berlari keluar apartemen. Ia ingin menjelaskan semuanya. Ia ingin memperbaikinya. Walau ia tahu bahwa semua ini akan sulit diperbaiki lagi.
Junsu mengejar kedua gadis yang tengah berlari ke luar gedung apartemen. Pandangannya terhenti ketika melihat taeyeon di tengah jalan. Napasnya memburu. Dengan cepat ia berlari ke arah taeyeon yang sebentar lagi akan dihantam oleh sebuah mobil yang melintas.
‘YAAAAA!!!!!!!!!” teriak Junsu berusaha mempercepat larinya.
BRAKKK.
Junsu terdiam ditempatnya. Ia terlambat.
*****
5 tahun kemudian.
Seorang gadis sedang berkeliling kota seoul sambil sesekali memotret pemandangan yang dianggapnya menarik. Sudah 5 tahun berlalu sejak ia meninggalkan kota ini. Meninggalkan semua kenangan yang berusaha ia lupakan. Ia teringat kembali pada dua orang yang begitu disayanginya. Hatinya sakit ketika mengenang saat itu. Namun ia senang, akhirnya mereka bisa bersama lagi.
“Minha onnie?” gadis yang dipanggil Minha menoleh ketika mendengar namanya dipanggil. Ia terdiam. Dilihatnya seorang gadis sedang berdiri di hadapannya. Sejenak kemudian Minha tersenyum. “annyong taeyeon-a.”
*****
“bagaimana keadaan Onnie?” tanya taeyeon ketika mereka telah duduk di sebuah cafe. Sudah lama sejak ia tidak berkomunikasi dengan Onnie-nya ini. Ia merasa bersalah dengan semua yang telah terjadi. Semua karena keegoisannya.
“baik. Bagaimana denganmu?”
“baik. Emm, Onnie…” kata taeyeon ragu.
“ne..?”
“Mianhae…” hanya kata itu yang keluar dari bibir mungilnya.
“untuk apa?” tanya Minha bingung.
“Mianhae. Karena aku, kau harus menjalani operasi berkali-kali. Mianhae karena aku, kau mengalami kecelakaan.” Kata taeyeon sambil tertunduk. Ia ingat jelas kejadian itu. Ketika dirinya hampir tertabrak sebuah mobil saat berlari menghindari Minha, namun Minha-lah yang telah menyelamatkan hidupnya dengan mengorbankan dirinya sendiri.
“sudahlah. Semuanya sudah terjadi. Yang terpenting, kini semuanya sudah baik-baik saja.” Jawab minha sambil tersenyum tulus. Ya, kecelakaan itulah yang menjadi alasannya meninggalkan seoul. Karena kecelakaan itu, keadaan jantungnya menjadi bertambah buruk hingga ia harus menjalani operasi penggantian katup jantung. Minha mengidap kelainan jantung sejak kecil, kebocoran dan penyempitan saluran katup aorta-nya yang menyebabkan dirinya tidak bisa beraktivitas normal sejak kecil. Ia mengetahuinya, namun sengaja ia rahasiakan dari junsu dan juga taeyeon. Ia tidak ingin hal itu membebani mereka. Orangtua Minha langsung membawa Minha ke USA untuk menjalani operasi pada jantungnya karena mereka ingin minha sembuh dengan fasilitas terbaik yang ada di dunia. Selama 3 bulan, Minha menjalani berbagai runtutan tindakan operasi yang sangat menyakitkannya. Sejak saat itu, Minha menetap disana dan melanjutkan pendidikannya di negara adidaya itu selama 5 tahun. Namun kini ia kembali, karena ia merasa sudah tak perlu lagi menghindari masa lalu. Lagipula, taeyeon dan Junsu sudah bahagia.
“kumawo onnie.” Balas taeyeon sambil tersenyum. “oh iya onnie…”
“ne?”
“minggu depan aku akan menikah. Kau harus datang ya!”
‘deg’ minha tersentak. ‘Menikah? Secepat itukah?’ batinnya. Ia kini melihat taeyeon sedang tersenyum bahagia. ‘apakah ini akhir semuanya? Akhir perasaanku pada junsu?’ batinnya lagi.
Drrttt.. drrttt…
Taeyeon meronggoh saku celananya. Dengan cepat ia menjawab telepon itu. “Oppa, kau dimana? Ne… aku menunggumu. Ne…” taeyeon segera menutup ponselnya dan tersenyum lagi ke arah Minha.
“onnie, sebentar lagi ia datang.” Kata taeyeon. Minha hanya balas tersenyum tanpa bisa berkata apa-apa lagi. junsu akan datang. Namun hatinya masih terasa sakit. Ia tak yakin apakah ia sanggup untuk berhadapan langsung dengan namja hingga kini masih mengisi relung hatinya.
*****
“itu dia!” kata taeyeon sambil melambaikan tangannya. Minha menoleh. Alisnya sedikit terangkat. ‘oppa?’ batin minha.
“annyong Minha-a.” Kata namja yang telah duduk di samping taeyeon. Minha masih menatapnya dengan bingung.
“onnie, kau ingatkan pada heechul oppa? Dia calon suamiku.” Kata taeyeon sambil tersenyum lagi. Minha hanya terdiam melihat mereka. ‘calon suami? Heechul oppa?’ batin minha.
“kau pasti mengira bahwa aku akan menikah dengan junsu oppa, kan?” tebak taeyeon ketika melihat ekspresi bingung di wajah Minha.
“kami hanya berteman Onnie. Aku tidak mungkin bertindak egois seperti dulu. Lagipula, kini aku mencintai heechul oppa. Iya kan Oppa?” kata taeyeon sambil tersenyum manja pada heechul.
Heechul balas tersenyum pada taeyeon, kemudian beralih menatap minha. “kau tidak senang melihat kami bersama?” tanya heechul pada Minha sambil pura-pura memasang wajah sedih.
“a…anniyo oppa! Aku senang. Senang sekali melihat kalian bahagia. Hanya saja…” Minha terlihat ragu dengan dirinya sendiri, kini pikirannya dipenuhi dengan kim junsu. Ia ingin mengetahui keadaan namja itu.
“kau tenang saja onnie. Dia baik-baik saja. Dan dia masih menunggumu.”
*****
Minha sedang berdiri di depan gedung apartemennya yang dulu. Tempat yang penuh dengan kenangan. Dimana ia sering bercanda dan tertawa bersama dengan Junsu. Setelah memantapkan hatinya, minha akhirnya masuk ke dalam gedung itu. Kini kakinya melangkah ke apartemen junsu. Ya, ia dengar dari taeyeon bahwa junsu masih tinggal disana.
Tok tok tok…
Minha mengetuk pintu apartemen di hadapannya. Jantungnya berdetak cepat membayangkan dirinya akan bertemu lagi dengan junsu.
Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya pintu itu terbuka. Namun bukan Junsu yang membukanya. Seorang gadis dengan piamanya kini berdiri di hadapannya.
“annyong… anda mencari siapa?” kata gadis itu ketika minha tidak kunjung bersuara.
“ehh… aku ingin bertemu dengan pemilik apartemen ini. Ehh maksudku…” minha belum selesai berbicara ketika ia mendengar suara orang yang begitu ia rindukan.
“Dikha-a, siapa yang datang?” minha kini melihatnya. Namja itu berdiri di hadapannya dengan piama yang sama dengan yang dikenakan gadis di sampingnya.
Junsu meyakini pengelihatannya. Dihadapannya kini berdiri seorang gadis yang begitu ia rindukan. “Minha-a?” hanya kata itu yang keluar dari bibirnya.
“annyong Junsu-a. Lama tidak berjumpa. Errr, sepertinya aku salah waktu kunjungan. Emm, nanti kita ngobrol lagi ya…annyong.” kata minha sambil membungkukkan badannya memberi salam sebelum pergi meninggalkan tempat itu.
Junsu merasa ada kesalahpahaman disini. Minha pasti berpikir macam-macam tentangnya dan juga dikha. Dengan cepat Junsu mengejar Minha yang sedang berjalan menjauh. Ia tidak bisa kehilangan gadis itu lagi.
“minha-a…” akhirnya junsu bisa menggapai lengan gadis yang begitu ia cintai. Gadis itu tidak menoleh ke arah junsu, melainkan hanya menundukkan wajahnya.
“dengar… aku bisa jelaskan semuanya.”
“menjelaskan apa junsu-a? Aku tidak mengerti dengan ucapanmu.” Kilah Minha berusaha terdengar senormal mungkin. Jika selama 5 tahun ini junsu mendapatkan sebuah cinta, maka itu wajar saja. Ia senang setidaknya junsu telah bahagia.
Junsu melepaskan tangan minha. Gadis itu langsung melangkah menjauhinya.
“dia dongsaengku!” kata junsu setengah berteriak. Minha menghentikan langkahnya berusaha meyakini pendengarannya.
“kau tidak ingat padanya?” kata junsu lagi ketika minha telah menghentikan langkahnya. “dia adikku yang sejak kecil tinggal di jepang bersama omma-ku. Kau tidak ingat padanya?” kini junsu melangkah mendekati Minha yang masih berdiri memunggunginya. Junsu kemudian membalik tubuh gadis itu hingga kini mereka berdiri berhadapan.
“dongsaengmu?” tanya Minha tak percaya.
Junsu hanya mengangguk sambil tersenyum.
“aku kira dia itu…”
“aku masih menunggumu Minha-a.” Potong junsu. Minha terdiam mendengarnya. Berbagai perasaan kini berkecamuk di hatinya. Namun kali ini, perasaan lega dan senanglah yang mendominasi.
“aku pernah mengatakan padamu bahwa perasaanku tidak akan berubah bahkan hingga 1000 tahun lagi. kini semua tidak berubah. saranghae yeongwonhi, Minha-a.” Kata junsu tulus sambil tersenyum lembut ke arah gadis itu.
“na…”
“hmm??”
“na… do saranghae Junsu-a.” Kata minha akhirnya. Setelah sekian tahun menyimpan kata-kata ini, akhirnya ia bisa mengucapkannya. Akhirnya ia bisa mengatakan perasaannya yang sebenarnya pada junsu.
Dengan lembut Junsu menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Perasaannya lega. Kini ia tidak akan melepaskannya. Tidak akan pernah membiarkan minha pergi meninggalkannya. “jeongmal bogoshippo.” Kata Junsu sambil terus memeluk erat gadis itu.
“aku tidak akan meninggalkanmu lagi.” hanya kata-kata itu membuat junsu yakin bahwa kisahnya telah berakhir bahagia.
-FIN-

Gimana2??? Gaje banget ya??? Hahahaha… memang author kurang bakat soal beginian…
Thx uda baca… Komen ya 😀

Advertisements
Categories: fanfic | Tags: , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: